Sabtu, 23 Mei 2009

Usia 9 bulan




Senin, 18 Mei 2009

Membaca

Jam Keluarga Membaca




Walikota Yogyakarta H Herry Zudianto SE MM (kang hery), Minggu (17/5/09) besok bersedia melepas peserta Parade Buku dalam rangkaian Bulan Buku Jogja 2009 di halaman Balaikota Kompleks Timoho. Sebelum melepas peserta Parade Buku walikota akan menerima buku dari masyarakat untuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan diserahkan kepada Ketua Umum Bulan Buku Jogja 2009 Drs H Haryadi Suyuti. Menurut Koordinator Parade Buku Sholeh UG, Jumat (15/5) di Sekretariat Panitia Bulan Buku Jalan Suroto 9 Yogyakarta, Wakil Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti akan mengkirabkan buku-buku dari masyarakat tersebut dari Balaikota ke Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Jalan Suroto 9 Kotabaru. Di tempat ini walikota akan orasi tentang membaca di samping menyerahkan hadiah berbagai lomba. Walikota berharap dari Bulan Buku dengan puncak acara Parade Buku ini akan menumbuhkan budaya baca sejak anak-anak. Di tempat ini walikota akan orasi tentang budaya membaca di samping menyerahkan hadiah berbagai lomba. Walikota Yogyakarta berharap dari Bulan Buku dengan puncak acara Parade Buku ini akan menumbuhkan budaya membaca. Yogyakarta pernah memiliki ikon jam belajar maka dari Bulan Buku kerja sama dengan SKH Kedaulatan Rakyat ini perlu dan pentingnya segera direalisasikan 'jam keluarga membaca'. "Pada jam tertentu seluruh keluarga membaca buku atau majalah, orangtua memberi teladan, saat menganjurkan membaca buku orangtua tidak boleh menyaksikan tayangan sinetron," ujar Herry Zudianto. Dari keluarga membaca ini diharapkan akan tumbuh budaya menyumbang buku, artinya buku-buku yang sudah dibaca disumbangkan kepada bank buku, yaitu perpustakaan daerah, sehingga kebutuhan buku sebagai bacaan dan hiburan beredar merata. Menurut Walikota Yogyakarta sumbangan itu tidak harus dengan uang, tetapi katakan dengan buku akan lebih memberikan manfaat. Karena buku di kalangan masyarakat menengah ke bawah masih jadi barang mewah. Parade Buku ini akan diikuti sekitar 1.000 orang dari start sampai finish menggunakan kendaraan non-mesin, seperti sepeda (Segosegawe), becak dan andong berhias buku-buku unggulan dari Kota Yogyakarta, sehingga tema Parade Buku ini 'Buku dan Tradisi Yogya'. Karena itu diharapkan peserta mengenakan busana dan asesoris lainnya yang berbau-bau tradisi Yogyakarta maupun kedaerahan. "Becak dan andong dibentuk kotak untuk menampung sumbangan buku-buku dari masyarakat yang akan menyerahkan di sepanjang jalan atau rute yang dilalui arak-arakan Parade Buku. Buku yang disumbangkan tidak harus baru, tetapi buku atau majalah bekas juga diterima," kata Sholeh UG sambil menambahkan, bagi masyarakat yang akan menghibahkan buku atau majalah kirab dimulai pukul 08.30.




Sumber : Kedaulatan Rakyat "Minggu Pagi"

Immunisasi

Imunisasi Lengkap Cegah Kejadian ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit kesukaran bernapas yang disebabkan oleh virus, bakteri maupun jamur. Jika tidak tertangani dengan baik dan benar, penyakit ISPA bisa berisiko menimbulkan kematian pada penderita. Imunisasi lengkap merupakan salah satu upaya dini untuk mencegah kejadian ISPA.
Programer ISPA Kota Yogya Susilawati SKM saat berbincang dengan KR di kantornya baru-baru ini mengatakan, pola penatalaksanaan penderita ISPA terdiri empat bagian, yaitu pemeriksaan penderita, penentuan ada tidaknya tanda bahaya, penentuan klasifikasi penyakit, hingga pengobatan ISPA secara benar dan tepat.
Dalam menentukan klasifikasi penyakit ISPA tersebut dibedakan atas beberapa kelompok, yaitu pneumonia berat, pneumonia sedang dan bukan pneumonia. Untuk yang bukan pneumonia mencakup penyakit-penyakit lain, seperti batuk pilek biasa, pharyngitis, dan tonsillitis.
Gejala-gejala penyakit ISPA ditandai dengan batuk, pilek dengan atau tanpa demam, pernapasan cepat, napas terasa menciut, sakit atau keluar cairan dari telinga, kesadaran menurun, bibir atau kulit pucat kebiruan, napas ngorok sewaktu istirahat, hingga adanya selaput membran difteri.
Upaya pencegahan dini dari serangan ISPA dilakukan dengan meningkatkan kekebalan tubuh. Sedangkan pada anak dilakukan imunisasi secara lengkap. Ketidakpatuhan imunisasi ditengarai berhubungan erat dengan peningkatan penderita ISPA. Karena imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan cukup berarti dalam mencegah kejadian ISPA.
Dikatakan, pola tata laksana yang diterapkan bagi penderita ISPA harus disesuaikan kondisi dan tingkat kesakitan pasien. Karena itu untuk pengobatannya perlu ditentukan terlebih dulu klasifikasi dari ISPA tersebut, apakah termasuk pneumonia berat, pneumonia biasa, atau hanya batuk pilek saja.
”Penyebab penyakit ISPA berupa virus maupun jamur yang berada di saluran pernapasan. ISPA bisa menyerang bagian pernapasan atas maupun bawah. Langkah dini agar terhindar dari ISPA adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan pola hidup bersih sehat,” papar Susilawati.
Berdasarkan catatan Departemen Kesehatan, ISPA merupakan suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran pernapasan. Adapun yang termasuk ISPA adalah influenza, pharingitis, trakeitis, bronkhitis akut, brokhiolitis, dan pneumonia.
Untuk saluran pernapasan menurut anatominya dapat dibagi menjadi saluran pernapasan atas, yaitu mulai dari hidung sampai laring. Untuk saluran pernapasan bawah, mulai dari laring sampai alveoli. Dengan demikian, infeksi saluran pernapasan akut dapat dibagi menjadi ISPA atas dan bawah.
Menurut survei kesehatan rumah tangga pada 1990, ISPA merupakan penyakit yang menyebabkan kematian nomor dua setelah diare. Akan tetapi terjadinya perubahan proporsi kematian pada SKRT 1986 dan 1992, ISPA merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan nomor dua pada balita.
Bahkan, kejadian ISPA pada balita lebih sering terjadi di daerah perkotaan dibandingkan di daerah pedesaan. Seorang anak yang tinggal di daerah perkotaan akan mengalami ISPA sebanyak 5-8 episode setahun, sedangkan bila tinggal di pedesaan sekitar 3-5 episode.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya mortalitas dan morbiditas ISPA serta berat ringannya penyakit itu. Faktor inilah yang dikenal sebagai faktor risiko. Beberapa faktor risiko yang telah diketahui antara lain, malnutrisi, kelahiran dengan berat badan rendah, pemberian ASI, kepadatan hunian, sosio ekonomi yang rendah, asap rokok, maupun cuaca.
Beberapa faktor yang telah diketahui mempengaruhi pneumonia dan kematian ISPA adalah malnutrisi, pemberian ASI kurang cukup, imunisasi tidak lengkap, defisiensi vitamin A, berat badan lahir rendah, umur muda, kepadatan hunian, udara dingin, jumlah kuman yang banyak di tenggorokan, terpapar polusi udara oleh asap rokok, maupun gas beracun.
Sedangkan perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh. Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Virus yang menyerang saluran napas dapat menyebar ke tempat-tempat lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang dan demam.

Sumber : Kedaulatan Rakyat "Minggu Pagi"

Jumat, 27 Maret 2009

Usia 6 bulan





Usia 3 bulan